Berikut adalah sejumlah pengakuan rezim-
rezim di dunia tentang aksi teror bendera-
palsu (false-flag) yang pernah
dilancarkannya:
1. Seorang mayor SS Nazi mengaku di
pengadilan Nuremberg bahwa (berdasarkan
perintah kepala Gestapo) dirinya dan
beberapa agen Nazi lainnya melancarkan
serangan palsu terhadap warga dan
sumberdayanya sendiri untuk kemudian
menyalahkan Polandia guna membenarkan
invasi terhadap Polandia. Jendral Nazi, Franz
Halder, juga bersaksi di pengadilan
Nuremberg bahwa pemimpin Nazi, Hermann
Goering, mengaku telah membakar gedung
parlemen Jerman, dan kemudian secara
mengada-ada menyalahkan kaum komunis
atas pembakaran itu.
2. Pemimpin mendiang Uni Soviet, Nikita
Khrushchev, mengakui secara tertulis bahwa
Tentara Merah Uni Soviet telah menembaki
desa Mainila yang dihuni warga Rusia pada
1939, dan menyatakan bahwa tembakan itu
berasal dari Finlandia sebagai dasar untuk
melancarkan Perang Musim Dingin empat hari
kemudian.
3. "Israel" mengakui bahwa sel teroris "Israel"
yang beroperasi di Mesir menanam bom di
sejumlah bangunan, termasuk fasilitas
diplomatik AS, kemudian meninggalkan "bukti"
yang mengarah pada keterlibatan orang-
orang Arab (salah satu bom meledak
prematur, yang memungkinkan piha Mesir
mengidentifikasi pengebom, dan beberapa
orang "Israel" kemudian mengaku).
4. CIA mengakui telah menyewa warga Iran
pada 1950 untuk mengaku sebagai Komunis
dan melakukan pengeboman di Iran dalam
rangka menjadikan negara itu melawan
perdana menterinya yang terpilih secara
demokratis.
5. Perdana Menteri Inggris mengaku kepada
menteri pertahanannya bahwa ia dan Presiden
Amerika Dwight Eisenhower menyetujui
rencana pada 1957 untuk melakukan
serangan bendera-palsu di Suriah dan
menyalahkan pemerintah Suriah sebagai cara
untuk menciptakan perubahan rezim.
6. Mantan Perdana Menteri Italia, seorang
hakim Italia, dan mantan kepala kontra
intelijen Italia mengaku bahwa NATO, dengan
bantuan Pentagon dan CIA, melakukan teror
bom di Italia dan negara-negara Eropa lainnya
pada 1950-an dan menyalahkan komunis,
dalam upaya menggalang dukungan rakyat
bagi pemerintah mereka di Eropa yang sedang
berjuang melawan Komunisme. Ini
sebagaimana dikatakan salah satu peserta
program rahasia sebelumnya, "Anda harus
menyerang warga sipil, penduduk, perempuan,
anak-anak, orang tidak bersalah, orang tak
dikenal yang jauh dari segala permainan
politik. Alasannya cukup sederhana. Mereka
diharapkan memaksa orang-orang tesebut,
publik Italia, untuk berpaling ke negara gun a
meminta jaminan keamanan lebih besar".
7. Seperti diakui pemerintah AS, beberapa
dokumen yang baru-baru ini dipublikasikan
menunjukkan bahwa pada tahun 1960-an,
Kepala Staf Gabungan AS menandatangani
rencana untuk meledakkan pesawat siil
Amerika (menggunakan rencana rumit yang
melibatkan penggantian pesawat), dan juga
untuk melancarkan aksi teroris di wilayah
Amerika, dan kemudian menyalahkan Kuba
untuk membenarkan invasi Kuba. Dua tahun
sebelumnya, Senator Amerika, George
Smathers, menyarankan AS untuk melakukan
"serangan palsu di Teluk Guantanamo yang
akan memberi kita alasan untuk benar-benar
mengobarkan pertarungan yang kemudian
akan memberi kita alasan untuk masuk dan
[menggulingkan Castro]".
Dokumen resmi Departemen Luar Negeri
menunjukkan bahwa (hanya sembilan bulan
sebelum rencana Kepala Staf Gabungan
rencana diajukan) kepala Staf Gabungan dan
pejabat tinggi lainnya berdiskusi untuk
meledakkan sebuah konsulat di Republik
Dominika guna membenarkan invasi terhadap
negara itu. Ketiga rencana itu tidak jadi
dilaksanakan, namun mereka semua
memandangnya sebagai proposal yang serius.
8. Sebuah komite Kongres AS mengakui
bahwa (sebagai bagian dari kampanye
"Cointelpro" atau Counter Intelligence
Program) FBI telah menggunakan banyak
provokator pada 1950 hingga 1970-an untuk
melakukan aksi kekerasan dan secara palsu
menyalahkannya pada kalangan aktivis
politik.
9. Majelis Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika
Selatan menemukan bahwa, pada 1989, Biro
Kerjasama Sipil (cabang rahasia Angkatan
Bersenjata Afrika Selatan) mendekati
seseorang ahli bahan peledak dan
memintanya "berpartisipasi dalam sebuah
operasi yang ditujukan untuk mendiskreditkan
ANC [Kongres Nasional Afrika] dengan
mengebom kendaraan polisi penyidik insiden
pembunuhan", agar ANC menjadi pihak
tertuduh.
10. Seorang diplomat Aljazair dan beberapa
perwira dalam ketentaraan Aljazair mengaku
bahwa pada 1990-an, tentara Aljazair
acapkali membantai warga sipil Aljazair dan
kemudian menyalahkan pihak militan Islam
atas pembunuhan tesebut.
11. Perwira senior militer dan intelijen Rusia
mengakui bahwa KGB telah meledakkan
bangunan apartemen Rusia dan secara palsu
menyalahkan pada pihak pemberontak
Chechen untuk membenarkan invasi terhadap
Chechnya.
12. Menurut Washington Post, pihak
kepolisian Indonesia mengaku bahwa pihak
militer Indonesia telah membunuh para guru
Amerika di Papua pada 2002 dan
menyalahkan pembunuhan tersebut pada
kelompok separatis Papua untuk memasukkan
kelompok tersebut dalam daftar organisasi
teroris.
13. Mantan presiden Indonesia yang cukup
dihormati juga mengakui bahwa pemerintah
kemungkinan ikut terlibat dalam tragedi
pengeboman di Bali.
14. Seperti dilansir BBC, New York Times, dan
Associated Press, pejabat Macedonia mengaku
bahwa pihak pemerintah telah membunuh
tujuh imigran yang tidak bersalah dengan
darah dingin dan menyebut mereka sebagai
tentara al-Qaeda yang berusaha membunuh
polisi Macedonia, untuk bergabung dengan
"perang melawan teror ".
15. Meskipun FBI sekarang mengaku bahwa
serangan anthrax pada 2001 yang dilakukan
oleh satu atau lebih ilmuwan pemerintah AS,
seorang pejabat senior FBI mengatakan
bahwa FBI sebenarnya disuruh para pejabat
Gedung Putih untuk menyalahkan serangan
anthrax itu terhadap al-Qaeda. Para pejabat
pemerintah juga menegaskan bahwa Gedung
Putih berupaya mengaitkan anthrax dengan
Irak sebagai pembenaran untuk pergantian
rezim di negara itu.
16. AS juga secara palsu menuding Irak ikut
terlibat dalam serangan 9/11 (seperti
ditunjukkan secarik memo dari menteri
pertahanan) sebagai salah satu dalih utama
untuk melancarkan perang Irak. Bahkan,
setelah Komisi 9/11 menunjukkan tidak
adanya koneksi apapun, Dick Cheney tetap
ngotot bahwa bukti "sudah luar biasa" bahwa
al Qaeda memiliki hubungan dengan rezim
Saddam Hussein; bahwa Cheney "mungkin"
memiliki informasi yang tidak dimiliki Komisi,
dan bahwa pihak media tidak \'melakukan
pekerjaan rumahnya untuk melaporkan
hubungan tersebut. Para pejabat tinggi
pemerintah AS kini mengakui bahwa perang
Irak sebenarnya dilancarkan demi minyak...
bukan 9/11 atau senjata pemusnah massal
(para pejabat AS sekarang telah mengakui
bahwa peristiwa 9/11 adalah teror yang
disponsori negara, namun Irak bukanlah
negara yang mendukung para pembajak).
17. Pada 2005, mantan pengacara
Departemen Kehakiman, John Yoo,
menyarankan AS untuk melanjutkan serangan
terhadap al-Qaeda dengan menyuruh "badan-
badan intelijen kita untuk menciptakan
organisasi teroris palsu yang memiliki situs,
pusat perekrutan, kamp-kamp pelatihan, dan
operasi penggalangan dana sendiri.
Organisasi itu dapat melancarkan operasi
teroris palsu dan mengklaimnya sebagai
serangan teroris yang nyata, yang membantu
menyebarkan kebingungan di jajaran al-
Qaeda, yang menyebabkan para pelaksana di
lapangan meragukan identitas selainnya dan
mempertanyakan validitas komunikasi."
18. United Press International melaporkan
pada bulan Juni 2005: Petugas intelijen AS
melaporkan bahwa beberapa pemberontak di
Irak baru-baru ini menggunakan pistol Beretta
92 model terbaru, namun nomor seri pistol-
pistol itu tampaknya telah dihapus. Angka-
angka itu tidak terlihat telah dihapus secara
fisik; pistol-pistol itu tampaknya berasal dari
jalur produksi tanpa nomor seri. Para analis
memandang bahwa tidak adanya nomor seri
itu menunjukkan bahwa senjata-senjata
tersebut ditujukan untuk operasi intelijen atau
sel-sel teroris dengan dukungan pemerintah
yang cukup besar. Para analis berspekulasi
bahwa senjata itu mungkin berasal dari
Mossad atau CIA. Para analis berspekulasi
bahwa agen provokator kemungkinan
menggunakan senjata yang tidak dapat
dilacak, sehingga pemerintah AS dapat
menggunakan serangan pemberontak terhadap
warga sipil sebagai bukti tidak sahnya
perlawanan.
19. Tentara "Israel" yang menyamar mengaku
melempari tentara "Israel" lainnya pada 2005
agar mereka dapat menyalahkan warga
Palestina sebagai alasan untuk menindak
protes damai warga Palestina (sebagaimana
juga dalam kasus terbaru seputar penculikan
remaja zionis yang menjadi dalih untuk
menangkap dan membunuh ratusan warga
Palestina yang tak berdosa serta
membombardir Gaza yang detik ini sedang
berlangsung secara masif).
20. Polisi Quebec (Kanada) mengakui bahwa,
pada 2007, segerombolan preman yang
melempari batu ke arah para pengunjuk rasa
damai sebenarnya merupakan perwira polisi
Quebec yang sedang menyamar.
21. Pada aksi protes G20 di London pada
2009, anggota parlemen Inggris melihat
seorang polisi berpakaian sipil mencoba
menghasut orang banyak untuk melakukan
kekerasan.
22. Seorang kolonel tentara Kolombia
mengakui bahwa unitnya membunuh 57 warga
sipil yang lantas dikenakan pakaian seragam
dan mengklaim mereka sebagai pemberontak
yang tewas dalam pertempuran.
23. Para prajurit AS mengaku bahwa jika
membunuh rakyat Irak dan Afghanistan yang
tidak berdosa, mereka buru-buru "meletakkan"
senjata otomatisnya ke dekat mayat para
warga sipil itu sehingga mereka seolah-olah
adalah para militan yang terbunuh.
24. Penulis Telegraph yang sangat dihormati,
Ambrose Evans Pritchard, mengatakan bahwa
kepala intelijen Saudi saat itu, Pangeran
Bandar, baru-baru ini mengakui bahwa
pemerintah Saudi mengendalikan kawanan
teroris "Chechnya".
25. Sumber tingkat tinggi AS mengakui bahwa
pemerintah Turki (sesama anggota NATO)
melakukan serangan senjata kimia yang
disalahkan pada pemerintah Suriah; dan
pejabat tingg Turki mengakui rekaman
rencana untuk melakukan serangan bendera-
palsu dan menyalahkan pemerintah Suriah.
(IT/WB/rj)
rezim di dunia tentang aksi teror bendera-
palsu (false-flag) yang pernah
dilancarkannya:
1. Seorang mayor SS Nazi mengaku di
pengadilan Nuremberg bahwa (berdasarkan
perintah kepala Gestapo) dirinya dan
beberapa agen Nazi lainnya melancarkan
serangan palsu terhadap warga dan
sumberdayanya sendiri untuk kemudian
menyalahkan Polandia guna membenarkan
invasi terhadap Polandia. Jendral Nazi, Franz
Halder, juga bersaksi di pengadilan
Nuremberg bahwa pemimpin Nazi, Hermann
Goering, mengaku telah membakar gedung
parlemen Jerman, dan kemudian secara
mengada-ada menyalahkan kaum komunis
atas pembakaran itu.
2. Pemimpin mendiang Uni Soviet, Nikita
Khrushchev, mengakui secara tertulis bahwa
Tentara Merah Uni Soviet telah menembaki
desa Mainila yang dihuni warga Rusia pada
1939, dan menyatakan bahwa tembakan itu
berasal dari Finlandia sebagai dasar untuk
melancarkan Perang Musim Dingin empat hari
kemudian.
3. "Israel" mengakui bahwa sel teroris "Israel"
yang beroperasi di Mesir menanam bom di
sejumlah bangunan, termasuk fasilitas
diplomatik AS, kemudian meninggalkan "bukti"
yang mengarah pada keterlibatan orang-
orang Arab (salah satu bom meledak
prematur, yang memungkinkan piha Mesir
mengidentifikasi pengebom, dan beberapa
orang "Israel" kemudian mengaku).
4. CIA mengakui telah menyewa warga Iran
pada 1950 untuk mengaku sebagai Komunis
dan melakukan pengeboman di Iran dalam
rangka menjadikan negara itu melawan
perdana menterinya yang terpilih secara
demokratis.
5. Perdana Menteri Inggris mengaku kepada
menteri pertahanannya bahwa ia dan Presiden
Amerika Dwight Eisenhower menyetujui
rencana pada 1957 untuk melakukan
serangan bendera-palsu di Suriah dan
menyalahkan pemerintah Suriah sebagai cara
untuk menciptakan perubahan rezim.
6. Mantan Perdana Menteri Italia, seorang
hakim Italia, dan mantan kepala kontra
intelijen Italia mengaku bahwa NATO, dengan
bantuan Pentagon dan CIA, melakukan teror
bom di Italia dan negara-negara Eropa lainnya
pada 1950-an dan menyalahkan komunis,
dalam upaya menggalang dukungan rakyat
bagi pemerintah mereka di Eropa yang sedang
berjuang melawan Komunisme. Ini
sebagaimana dikatakan salah satu peserta
program rahasia sebelumnya, "Anda harus
menyerang warga sipil, penduduk, perempuan,
anak-anak, orang tidak bersalah, orang tak
dikenal yang jauh dari segala permainan
politik. Alasannya cukup sederhana. Mereka
diharapkan memaksa orang-orang tesebut,
publik Italia, untuk berpaling ke negara gun a
meminta jaminan keamanan lebih besar".
7. Seperti diakui pemerintah AS, beberapa
dokumen yang baru-baru ini dipublikasikan
menunjukkan bahwa pada tahun 1960-an,
Kepala Staf Gabungan AS menandatangani
rencana untuk meledakkan pesawat siil
Amerika (menggunakan rencana rumit yang
melibatkan penggantian pesawat), dan juga
untuk melancarkan aksi teroris di wilayah
Amerika, dan kemudian menyalahkan Kuba
untuk membenarkan invasi Kuba. Dua tahun
sebelumnya, Senator Amerika, George
Smathers, menyarankan AS untuk melakukan
"serangan palsu di Teluk Guantanamo yang
akan memberi kita alasan untuk benar-benar
mengobarkan pertarungan yang kemudian
akan memberi kita alasan untuk masuk dan
[menggulingkan Castro]".
Dokumen resmi Departemen Luar Negeri
menunjukkan bahwa (hanya sembilan bulan
sebelum rencana Kepala Staf Gabungan
rencana diajukan) kepala Staf Gabungan dan
pejabat tinggi lainnya berdiskusi untuk
meledakkan sebuah konsulat di Republik
Dominika guna membenarkan invasi terhadap
negara itu. Ketiga rencana itu tidak jadi
dilaksanakan, namun mereka semua
memandangnya sebagai proposal yang serius.
8. Sebuah komite Kongres AS mengakui
bahwa (sebagai bagian dari kampanye
"Cointelpro" atau Counter Intelligence
Program) FBI telah menggunakan banyak
provokator pada 1950 hingga 1970-an untuk
melakukan aksi kekerasan dan secara palsu
menyalahkannya pada kalangan aktivis
politik.
9. Majelis Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika
Selatan menemukan bahwa, pada 1989, Biro
Kerjasama Sipil (cabang rahasia Angkatan
Bersenjata Afrika Selatan) mendekati
seseorang ahli bahan peledak dan
memintanya "berpartisipasi dalam sebuah
operasi yang ditujukan untuk mendiskreditkan
ANC [Kongres Nasional Afrika] dengan
mengebom kendaraan polisi penyidik insiden
pembunuhan", agar ANC menjadi pihak
tertuduh.
10. Seorang diplomat Aljazair dan beberapa
perwira dalam ketentaraan Aljazair mengaku
bahwa pada 1990-an, tentara Aljazair
acapkali membantai warga sipil Aljazair dan
kemudian menyalahkan pihak militan Islam
atas pembunuhan tesebut.
11. Perwira senior militer dan intelijen Rusia
mengakui bahwa KGB telah meledakkan
bangunan apartemen Rusia dan secara palsu
menyalahkan pada pihak pemberontak
Chechen untuk membenarkan invasi terhadap
Chechnya.
12. Menurut Washington Post, pihak
kepolisian Indonesia mengaku bahwa pihak
militer Indonesia telah membunuh para guru
Amerika di Papua pada 2002 dan
menyalahkan pembunuhan tersebut pada
kelompok separatis Papua untuk memasukkan
kelompok tersebut dalam daftar organisasi
teroris.
13. Mantan presiden Indonesia yang cukup
dihormati juga mengakui bahwa pemerintah
kemungkinan ikut terlibat dalam tragedi
pengeboman di Bali.
14. Seperti dilansir BBC, New York Times, dan
Associated Press, pejabat Macedonia mengaku
bahwa pihak pemerintah telah membunuh
tujuh imigran yang tidak bersalah dengan
darah dingin dan menyebut mereka sebagai
tentara al-Qaeda yang berusaha membunuh
polisi Macedonia, untuk bergabung dengan
"perang melawan teror ".
15. Meskipun FBI sekarang mengaku bahwa
serangan anthrax pada 2001 yang dilakukan
oleh satu atau lebih ilmuwan pemerintah AS,
seorang pejabat senior FBI mengatakan
bahwa FBI sebenarnya disuruh para pejabat
Gedung Putih untuk menyalahkan serangan
anthrax itu terhadap al-Qaeda. Para pejabat
pemerintah juga menegaskan bahwa Gedung
Putih berupaya mengaitkan anthrax dengan
Irak sebagai pembenaran untuk pergantian
rezim di negara itu.
16. AS juga secara palsu menuding Irak ikut
terlibat dalam serangan 9/11 (seperti
ditunjukkan secarik memo dari menteri
pertahanan) sebagai salah satu dalih utama
untuk melancarkan perang Irak. Bahkan,
setelah Komisi 9/11 menunjukkan tidak
adanya koneksi apapun, Dick Cheney tetap
ngotot bahwa bukti "sudah luar biasa" bahwa
al Qaeda memiliki hubungan dengan rezim
Saddam Hussein; bahwa Cheney "mungkin"
memiliki informasi yang tidak dimiliki Komisi,
dan bahwa pihak media tidak \'melakukan
pekerjaan rumahnya untuk melaporkan
hubungan tersebut. Para pejabat tinggi
pemerintah AS kini mengakui bahwa perang
Irak sebenarnya dilancarkan demi minyak...
bukan 9/11 atau senjata pemusnah massal
(para pejabat AS sekarang telah mengakui
bahwa peristiwa 9/11 adalah teror yang
disponsori negara, namun Irak bukanlah
negara yang mendukung para pembajak).
17. Pada 2005, mantan pengacara
Departemen Kehakiman, John Yoo,
menyarankan AS untuk melanjutkan serangan
terhadap al-Qaeda dengan menyuruh "badan-
badan intelijen kita untuk menciptakan
organisasi teroris palsu yang memiliki situs,
pusat perekrutan, kamp-kamp pelatihan, dan
operasi penggalangan dana sendiri.
Organisasi itu dapat melancarkan operasi
teroris palsu dan mengklaimnya sebagai
serangan teroris yang nyata, yang membantu
menyebarkan kebingungan di jajaran al-
Qaeda, yang menyebabkan para pelaksana di
lapangan meragukan identitas selainnya dan
mempertanyakan validitas komunikasi."
18. United Press International melaporkan
pada bulan Juni 2005: Petugas intelijen AS
melaporkan bahwa beberapa pemberontak di
Irak baru-baru ini menggunakan pistol Beretta
92 model terbaru, namun nomor seri pistol-
pistol itu tampaknya telah dihapus. Angka-
angka itu tidak terlihat telah dihapus secara
fisik; pistol-pistol itu tampaknya berasal dari
jalur produksi tanpa nomor seri. Para analis
memandang bahwa tidak adanya nomor seri
itu menunjukkan bahwa senjata-senjata
tersebut ditujukan untuk operasi intelijen atau
sel-sel teroris dengan dukungan pemerintah
yang cukup besar. Para analis berspekulasi
bahwa senjata itu mungkin berasal dari
Mossad atau CIA. Para analis berspekulasi
bahwa agen provokator kemungkinan
menggunakan senjata yang tidak dapat
dilacak, sehingga pemerintah AS dapat
menggunakan serangan pemberontak terhadap
warga sipil sebagai bukti tidak sahnya
perlawanan.
19. Tentara "Israel" yang menyamar mengaku
melempari tentara "Israel" lainnya pada 2005
agar mereka dapat menyalahkan warga
Palestina sebagai alasan untuk menindak
protes damai warga Palestina (sebagaimana
juga dalam kasus terbaru seputar penculikan
remaja zionis yang menjadi dalih untuk
menangkap dan membunuh ratusan warga
Palestina yang tak berdosa serta
membombardir Gaza yang detik ini sedang
berlangsung secara masif).
20. Polisi Quebec (Kanada) mengakui bahwa,
pada 2007, segerombolan preman yang
melempari batu ke arah para pengunjuk rasa
damai sebenarnya merupakan perwira polisi
Quebec yang sedang menyamar.
21. Pada aksi protes G20 di London pada
2009, anggota parlemen Inggris melihat
seorang polisi berpakaian sipil mencoba
menghasut orang banyak untuk melakukan
kekerasan.
22. Seorang kolonel tentara Kolombia
mengakui bahwa unitnya membunuh 57 warga
sipil yang lantas dikenakan pakaian seragam
dan mengklaim mereka sebagai pemberontak
yang tewas dalam pertempuran.
23. Para prajurit AS mengaku bahwa jika
membunuh rakyat Irak dan Afghanistan yang
tidak berdosa, mereka buru-buru "meletakkan"
senjata otomatisnya ke dekat mayat para
warga sipil itu sehingga mereka seolah-olah
adalah para militan yang terbunuh.
24. Penulis Telegraph yang sangat dihormati,
Ambrose Evans Pritchard, mengatakan bahwa
kepala intelijen Saudi saat itu, Pangeran
Bandar, baru-baru ini mengakui bahwa
pemerintah Saudi mengendalikan kawanan
teroris "Chechnya".
25. Sumber tingkat tinggi AS mengakui bahwa
pemerintah Turki (sesama anggota NATO)
melakukan serangan senjata kimia yang
disalahkan pada pemerintah Suriah; dan
pejabat tingg Turki mengakui rekaman
rencana untuk melakukan serangan bendera-
palsu dan menyalahkan pemerintah Suriah.
(IT/WB/rj)
utak atik matuk :
mungkinkah peristiwa mh1 7 dan kematian 3 pemuda israel adl ff? menurutmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar